Jumat, 12 April 2013

Kitab Sunan Abi Dawud


Kitab Sunan Abi Dawud
Oleh: Aidil Susandi, Lc. 

Kitab Sunan Abi Dawud | Sunnah Nabi Muhammad saw. merupakan sumber primer kedua dalam Islam. Usaha-usaha menjaga validitasnya merupakan usaha penting dan melahirkan suatu bangunan disiplin ilmu tersendiri. Dalam sejarahnya, hadis-hadis Nabi saw. tersebar dalam hafalan-hafalan individu dan disampaikan dari mulut ke mulut. Dalam perkembangan selanjutnya, hadis-hadis yang tersebar dalam hafalan individu-individu tersebut mulai ditulis dan dibukukan.
Banyak macam, ragam, dan corak penulisan hadis yang dilakukan oleh para ulama hadis. Dan di antara kitab-kitab hadis tersebut adalah kitab Sunan Abī Dawūd | Makalah ini akan memaparkan tentang kitab Sunan Abī Dawūd tersebut yang meliputi: biografi penulis, metode penulisan, status hadis-hadis di dalamnya serta pujian ulama.

Biografi dan Perjalanan Intelektual Imam Abū Dāwūd
Nama lengkapnya adalah Abū Dāwūd Sulaimān bin al-Asy’aś bin Ishaq bin Basyir bin Saddad bin ‘Amru bin ‘Imrān al-Azdī as-Sijistānī.[1] Dilahirkan pada tahun 202 H. dan meninggal pada hari Jumat pertengahan bulan Syawal tahun 275 H.[2] di Bașrah.[3] Nama as-Sijistānī dikaitkan dengan tempat kelahiran beliau, yaitu Sijistān sebuah daerah kecil yang tersendiri berbatasan dengan negeri Harāh sebelah barat, Mafāzah sebelah selatan, dan awal India sebelah utara.[4]Terletak antara Khurāsan dan Kirmān.[5]    

Abū Dāwūd pertama kali datang ke Baghdad pada umur delapan belas tahun kemudian pergi ke Bașrah lalu ke Syam dan Mesir kemudian balik ke Irak. Dengan anaknya ia melanjutkan ke Naisabur dan ke tokoh-tokoh hadis. Lalu ia pulang ke Sijistān dan akhirnya pergi ke Bașrah dan berdomisili di sana. Dalam pengembaraannya, ia juga ditemani oleh saudaranya Muhammad bin al-Asy’aś.[6]

Abū Dāwūd adalah merupakan penghafal hadis utama, syaikh as-sunnah, terkenal dengan kesholehan, wara’, dan mengembara ke berbagai negeri-negeri Islam untuk mencari hadis Rasulullah saw. Ia mendapatkan hadis dari perawi-perawi Irak, Khurasān, Syam, Mesir, Damaskus, śaġr, Hijaz, dan negeri-negeri lainnya.[7] Ia bergelar al-Imām al-Hāfiz.[8]

Ia banyak berguru dengan ulama-ulama besar. Di Makkah Ia meriwayatkan hadis dari al-Qa’nabī, dan Sulaiman bin Harb. Di Bașrah dari Muslim bin Ibrahim, Abdullah ar-Raja’, Abu al-Walid ath-Țayālisī, dan ulama lainnya. sementara di Kufah diantaranya: dari Hasan bin ar-Rabi’ al-Būrāī, Ahmad bin Yunus al-Yarbū’ī. Damaskus: Șafwan bin Șalih, Hisyam bin ‘Ammar. Khurasān: Ishaq bin Rāhawaih. Baġdad: Ahmad bin Hanbal. Mesir: Ahmad bin Șalih.[9] Ia juga mengambil hadis dari Yahya bin Ma’in.[10]   
Sementara orang yang meriwayatkan hadis dari Imam Abū Dawūd diantaranya: at-Tirmīżī, an-Nasāī (dalam sunannya), anaknya Abu Bakar bin Abū Dāwūd, Abū Awanah, Abu Alī al-Lu’luay, Muhammad bin Bakr bin Dāsah, Abu Bakr bin Abū ad-Dunya  dan puluhan orang lainnya.[11] Bahkan gurunya sendiri, Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan satu hadis darinya, yaitu hadis “ ’atirah ” dan ia begitu senang dengan hal ini.[12]  

Kepakaran dan keahlian Abū Dāwūd dalam hadis diakui oleh para ulama. Ia adalah imam hadis pada zamannya yang tidak terbantahkan.[13] Kitab Sunan adalah sumbangsih terbesarnya dalam masalah hadis.

Kebesaran dan kemahsyuran nama Imam Abū Dāwūd dapat dilihat bagaimana seorang putra mahkota pernah mendatanginya dan meminta tiga hal. Pertama, agar Imam Abū Dāwūd datang dan menetap di Bașrah. Permintaan ini diterima oleh Abū Dāwūd. Kedua, Ia diminta untuk mengajarkan kitab Sunan kepada anak amir itu. Ini juga disetujui. Ketiga, anak amir itu diajarkan dalam majelis tersendiri dengan alasan bahwa anak-anak khalifah tidak duduk dengan anak-anak lain. Permintaan ini ditolak oleh Imam Abū Dāwūd karena dalam hal ilmu semua orang sama.[14]

Kitab Sunan karya Imam Abū Dāwūd adalah bukti kedalaman ilmunya di bidang hadis. Metode yang ditempuhnya dalam penyusunan kitab ini mendapat pujian yang luar biasa dari berbagai kalangan ulama. Banyak para penuntut hadis berdatangan kepada beliau untuk berguru.[15]

Karya-karya
Selain kitab Sunan, Imam Abū Dāwūd juga memiliki karya-karya lainnya yaitu: al-Masāil allatī khālafahā al-Imām Ahmad bin Hanbal, Ijābatuh ‘alā suālāt al-Ājirī, Risālatuh fi Wașf Ta’līfih li Kitāb as-Sunan, az-Zuhd, Tasmiyah Ikhwah allażī Ruwiya ‘anhum al-Hadiś, Kitāb al-Marāsil, Kitāb fi ar-Rijāl, Kitāb al-Qadr, Kitāb, an-Nāsikh, Musnad Mālik, Kitāb Așhab asy-Sya’bī.[16] 

Kitab Sunan Abī Dāwūd
Kitab Sunan Abī Dāwūd merupakan pioner awal dalam penulisan kitab sunan. Kitab ini menghimpun banyak hadis ahkam yang disusun berdasarkan sistematika pembahasan fikih.[17] Sebelum kemunculannya, para ulama menghimpun hadis masih dalam bentuk jami’ dan musnad. Namun Imam Abū Dāwūd mengkhususkan kitabnya untuk ushul-ushul dan ahkam fikih.[18]

Kitab Sunan Abī Dāwūd yang sampai kemasyarakat luas dan ke penjuru negeri diriwayatkan oleh lima orang huffaz muridnya. Sehingga manuskrip-manuskrip kitab ini beredar dalam berbagai bentuk. Manuskrip-manuskrip tersebut sebagai berikut:[19]
1.      Manuskrip Lu’luaiy:  Manuskrip ini diriwayatkan oleh al-Imām al-Hāfiz Abū ‘Alī Muhammad bin Ahmad bin ‘Amru al-Bașriy al-Lu’luaiy. Banyak beredar di negeri-negeri Arab sebelah Timur. Periwayatannya paling șahih dibandingkan manuskrip lain. Dan riwayat yang paling akhir didiktekan langsung oleh Imam Abū Dawūd.
2.      Manuskrip Ibn Dāsah: Manuskrip ini diriwayatkan oleh al-Imām al-Hāfiz Abu Bakr Muhammad bin Bakr bin Muhammad bin Abd ar-Razzāq at-Tamār al-Bașrī yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn Dāsah. Manuskrip ini banyak tersebar di negeri-negeri Arab sebelah barat. Periwayatannya mendekati manuskrip Lu’luaiy namun berbeda dalam tata letak letak (taqdīm wa ta’khīr)
3.      Manuskrip ar-Ramlī. Diriwayatkan oleh al-Imām al-Hāfiz Abu Mūsā Ishaq bin Mūsā bin as-Sa’īd ar-Ramlī. Manuskrip ini mendekati manuskrip Ibn Dāsah.
4.      Manuskrip Ibn al-A’rabī: Diriwayatkan oleh al-Imām al-Hāfiz Abu Sa’īd Ahmad bin Muhammad bin Ziyād bin Basyar, yang terkenal dengan nama Ibn al-A’rabī
5.      Manuskrip al-‘Abdī: Diriwayatkan oleh Abū al-Hasan al-‘Abd. Manuskrip ini periwayatannya berbeda dari manuskrip Lu’luaiy

Dari kelima manuskrip ini, manuskrip Lu’luaiy yang dapat dikatakan sebagi kitab Sunan Abī Dāwūd.[20] Manuskrip ini pula yang sampai pada masa sekarang ini[21]. Abū Alī al-Lu’luay sendiri telah membacakan kitab Sunan Abī Dawūd selama 20 tahun kepada manusia, dan ia disebut sebagai ‘warraq Abī Dawūd” (pembaca Sunan Abī Dawūd) 

Sebagaimana yang dikatakan Imam Abū Dāwūd, ia menulis 500.000 hadis Rasulullah saw dan memilih 4800 hadis yang ia masukkan kedalam kitas Sunan.[22] Namun dalam riwayat Lu’luaiy hadis yang tercantum sebanyak 5274 hadis.[23]

Hadis yang terdapat dalam kitab ini memuat hadis șahih dan hasan dan bebas dari hadis maudu’, maqlūb dan majhūl serta tidak memuat hadis yang telah disepakati untuk ditinggalkan.[24]
Metode penulisan
Tentu saja, penulis kitab sendirilah yang paling mengetahui hadis-hadis dan metode penulisan yang ia tempuh dalam menyusun sebuah kitab. Dalam hal ini, akan diuraikan status hadis dan metode Imam Abū Dāwūd seperti yang ia sampaikan kepada penduduk Mekah dalam sebuah risalahnya.[25] Berikut metode tersebut:
·         Jika ada dua hadis șahih, Imam Abū Dāwūd lebih mengutamakan hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang hafalannya lebih terdepan.
·         Dalam satu bab hanya memuat satu atau dua hadis saja. Namun kalau hadis itu șahih maka lebih banyak lagi ia tuliskan. 
·         Pengulangan hadis yang ada dalam satu bab dimaksudkan sebagai penjelasan tambahan.
·         Peringkasan hadis yang dimuat Imam Abū Dāwūd bertujuan untuk memudahkan pemaham fikih ketika membacanya.
·         Kitab Sunan memuat hadis mursal[26]. Bagi Imam Abū Dāwūd, hadis mursal dapat dijadikan hujjah –sebagaimana Sufyan aś-Śaurī, Mālik bin Anas, al-Auza’I, asy-Syāfi’I dan yang lainnya- bila tidak terdapat hadis yang lebih kuat lagi.
·         Imam Abū Dāwūd tidak memuat satu pun hadis matruk[27] dalam Sunannya.
·         Memuat seluruh hadis ahkām dan Abū Dāwūd berkata “jika disebutkan kepadamu sunnah Nabi yang tidak ada aku muat, maka ketahuilah bahwa hadis itu tidak dapat dipakai”.
·         Imam Abū Dāwūd menjelaskan hadis-hadis yang sangat lemah dalam kitabnya (wahnun syadīd)
·         Hadis yang tidak di jelaskan Imam Abū Dāwūd berarti hadis itu șalih; șalih li al-i’tibar dan șalih li al-ihtijāj.
·         Hadis-hadis yang terdapat dalam Sunan Abī Dāwūd memuat ușul-ușul masalah fikih.
·         Hadis-hadis dalam kitabnya terdapat banyak hadis-hadis masyhūr[28] (masyāhir)
·         Selain mursal, kitab ini juga memuat hadis-hadis mudallas[29] bila tidak ditemui hadis-hadis yang șahih
·         Kitab Sunan Abī Dāwūd yang ditulis oleh Imam Abū Dāwūd berjumlah delapan belas jilid dengan satu jilid hadis-hadis mursal.
·         Imam Abū Dāwūd memuat 4.800 hadis dengan 600 hadis mursal
·         Hadis yang termuat hanya mencakup hadis-hadis ahkam.

Status hadis yang tidak dijelaskan oleh Imam Abū Dāwūd
Ibn Hajar mengomentari bahwa perkataan Imam Abū Dāwūd, “hadis-hadis yang sangat lemah (wahn syadid) yang terdapat dalam kitabku, maka aku menjelaskannya, dan apa yang tidak ku sebutkan maka itu dapat dipakai (șalih)” dapat dipahami bahwa hadis yang tidak wahn syadid maka tidak dijelaskan olehnya. Dengan demikian, seluruh hadis yang didiamkan oleh Imam Abū Dawūd termasuk dalam kategori șahih, hasan liżātih, hasan liġairih, dan da’if yang tidak sampai periwayatannya disepakati untuk ditinggalkan. Dan kesemua hadis itu baginya dapat dijadikan hujjah.[30]  

Namun tidak semua yang didiamkan termasuk kategori hadis yang dapat dipakai. Ada beberapa sebab lain Imam Abū Dāwūd mendiamkan sebuah hadis yaitu: bila pe-rawi sebuah hadis telah dijelaskan sebelumnya, lupa (zuhul), pe-rawi yang sudah disepakati ditolak periwayatannya seperti Abū Hadīr dan Yahya bi al-‘Alā’, adanya perbedaan riwayat (rawi), dan sanad-sanad yang tidak terdapat dalam periwayatan Lu’luaiy. Tapi yang benar, lanjut Ibn Hajar bahwa hadis-hadis yang lemah tidak berarti Imam Abū Dāwūd memakainya sebagai hujjah dan mendahulukannya dari qiyas.[31]

Senada dengan itu, Albānī juga setuju bahwa kata “șalih” yang dikatakan Imam Abū Dāwūd berarti mencakup hadis da’if yang tidak terlalu lemah. Namun meski demikian, penelitian terbaru menemukan ada hadis-hadis yang sangat lemah namun tetap didiamkan (tidak dijelaskan) oleh Imam Abū Dawūd.[32]

Ibn ‘Abd al-Hādī, sebagaimana dikutip Albānī, mengatakan bahwa hadis-hadis yang didiamkan oleh Imam Abū Dāwūd –diluar șahihaini- terbagi kepada șahih muhtajj bih, da’if ġair muhtajj bih, dan mutawassiț antara keduanya. Dalam Sunan-nya itu terdapat hadis yang: șahih liżatih, șahih li ġairih, wahn syadid dan wahn ġair syadīd. Oleh sebab itu tidak semua hadis yang didiamkan dapat dipakai sebagai hujjah.[33]

Ulama-ulama seperti al-Hāfiz Ibn Munżir, an-Nawwāwī, az-Zayla’ī, al-Irāqī, al-‘Asqolānī, dan lainnya banyak men-da’if-kan hadis-hadis yang didiamkan oleh Imam Abū Dawūd dalam kitab Sunannya.[34]

Pujian ulama mengenai kitab Sunan Abī Dāwūd
Lahirnya kitab Sunan mendapatkan sambutan luar biasa dari para ulama dan masyarakat. Kitab ini banyak memuat hadis-hadis fikih dan menjadi sebuah hukum bagi ulama, serta rujukan bagi penduduk Irak, Mesir dan negeri-negeri Arab sebelah barat dan negeri lainnya. Abu al-‘Alā’ al-Muhsin al-Wādādī mengatakan, “aku bermimpi bertemu Rasulullah saw dan. beliau berkata: siapa yang ingin berpegang dengn sunnah maka hendaklah membaca Sunan Abī Dawūd”. Dan Imam Nawwāwī menyebutkan, “orang-orang yang berkecimpung dalam fikih dan lainnya harus mengambil Sunan Abī Dāwūd dan menguasainya dengan sempurna”.[35]

Zakarya as-Sājī mengatakan, “kitabullah adalah pondasi Islam dan Sunan Abī Dāwūd adalah penopang Islam”.[36] Muhammad bin Makhlad menyebutkan, “ tatkala Abū Dāwūd selesai menyusun kitab Sunannya dan membacakannya kepada manusia, maka kitabnya itu menjadi seperti mushaf bagi ahli hadis, mereka mengikutinya dan tidak mempersoalkannya.[37]

Syarh kitab Sunan Abī Dāwūd
Syarh merupakan tradisi yang hidup dalam keilmuan masyarakat muslim, berlaku untuk hampir seluruh ilmu yang ada. Syarh banyak membantu dalam memahami sebuah teks yang menjadi ulasan. Demikian pula halnya dengan kitab Sunan Abī Dāwūd. Dengan syarh, pembaca akan mudah memahami isi kandungan kitab kumpulan hadis ahkam ini. Dan pada mukaddimah syarh, biasanya diulas biografi dan kitab Sunan Abī Dawūd itu sendiri. Dengan demikian, pembaca akan mendapatkan gambaran serta metode yang ditempuh penulis dalam kitabnya.

Bukan sampai di situ saja, syarh Sunan Abī Dawūd tersebut juga di syarh oleh ulama-ulama lainnya, yang dikenal dengan hāsyiah.

Berikut di antara syarh kitab Sunan Abī Dawūd beserta hāsyiah-nya:[38]
·         Ma’ālim as-Sunan karya Abu Sulaiman hamd bin Muhammad bin Ibrahim al-Khițābī (w. 388 H).
·         Al-‘Add al-Maudūd fi Hawāsyī Abī Dāwūd karya Abd al-‘Azim al-Munżirī (w. 656 H).
·         Syarh al-‘Ainī karya Mahmud bin Ahmad al al-‘Ainī (w. 855 H).
·         Mirqah aș-Șu’ud ilā Sunan Abī Dāwūd karya as-Suyūți (w. 911 H).
·         Fath al-Wadūd ‘Alā Sunan Abī Dāwūd karya Abū al-Hasan as-Sandī (W. 1138).
·         Hāsyiah ‘Ain al-Wadūd karya Muhammad bin Abdullah Banjābī al-Hazārawī.
·         Ġayah al-Maqșud fi Hill Sunan Abī Dāwūd karya Muhammad Syams al-Haq ‘Azim Abadī.
·         Șahih Sunan Abī Dāwūd karya Nāșir ad-Dīn AlBānī (w. 1420 H).[39]
·         Da’if Sunan Abī Dāwūd karya Nāșir ad-Dīn AlBānī (W. 1420 H). [40]
·         Aun al-Ma’bud  karya Muhammad Asyraf dan Muhammad Syamsy al-Haq.

Penutup 
Kitab Sunan Abī Dāwūd adalah kitab yang pertama ditulis dengan menghimpun seluruh hadis ahkām dengan sistematika fikih. Keberadaannya diterima oleh masyarat luas sebagai pegangan dalam persoalan fikih.
           











[1] Ahmad bin ‘Alī al-Khatīb al-Baġdādī (selanjutnya disingkat al-Khatīb al-Baġdādī), Tārīkh Madīnah as-Salām, (Beirut: Dār al-Ġarb al-Islāmī, 2001), jil. 10, h. 75; lihat juga Ibn Khallikān, Wafiyāt al-A’yān, (Beirut: Dār aș-Șhādir, t.th), jil. 2, h. 404; aż-Żahabī, Siyar A’lām an-Nubalā’, (t.tmp, t.p, t.th), jil. 13, h. 203; Abū Abdullāh ad-Damasyqī, Țobaqāt ‘Ulama’ al-hadiś, cet. 2 (Beirut: Muassasah ar-risālah, 1996), jilid 2, h. 290
[2] Ibn Khallikān, Wafiyāt al-A’yān, h. 405
[3] As-Subkī, al-Manhal al-‘Ażb al-Maurūd, (Beirut: Muassasah at- Tārīkh al-‘Arabī, t.th), jil. 1, h.16
[4] Aż-Żahabī, Siyar A’lām an-Nubalā’, hal. 220
[5] As-Subkī, al-Manhal.., h.16
[6] Ibid., h. 221; lihat juga Mahmud bin Ahmad  al-‘Ainī, Syarh Sunan Abī Dawūd, (Riyād: Maktabah ar-Rusyd, 1999) jilid 1, hal. 21-22
[7]  Ibid,. h.  221: lihat juga Khallikan, Wafiyāt al-A’yān, h. 404; Abu Abdullah ad-Damasyqi, Țobaqāt Ulamā’ al-Haadiś, hal. 290
[8] As-Subkī, al-Manhal.., h.16
[9] aż-Żahabī, Siyar A’lām an-Nubalā’, h. 204-205
[10] As-Subkī, al-Manhal.., h.15
[11] Ibid., 205-206: lihat juga Abu Abdullah ad-Damasyqi, Țobaqāt ‘Ulama’ al-hadiś, h. 291
[12] Abū Abdullāh ad-Damasyqī, Țobaqāt ‘Ulama’ al-hadiś,, h. 291
[13] Aż-Żahabī, Siyar A’lām an-Nubalā’, h. 212
[14] Ibid., 216
[15] Abu Sulaiman al-Khitābī, Ma’ālim as-Sunan, (Hilb: tt.p, 1933) jilid 1, h. 7
[16] Mahmud bin Ahmad  al-‘Ainī, Syarh Sunan Abī Dawūd, h. 24-25
[17] As-Subkī, al-Manhal.., h.17
[18] Abu Sulaiman al-Khitābī, Ma’alim as-Sunan, h. 7-8
[19] As-Subkī, al-Manhal.., h.19

[20] Ibid. hal. 19
[21] Mahmud bin Ahmad  al-‘Ainī, Syarh Sunan Abī Dawūd, h. 32
[22] Abu Sulaiman al-Khitābī, Ma’alim as-Sunan, h. 10
[23] Lihat catatan kaki Mahmud bin Ahmad  al-‘Ainī, Syarh Sunan Abī Dawūd, h. 32
[24] Mahmud bin Ahmad  al-‘Ainī, Syarh Sunan Abī Dawūd, h. 29
[25] Lihat As-Subkī, al-Manhal.., h.17; Mahmud bin Ahmad  al-‘Ainī, Syarh Sunan Abī Dawūd, hal. 35. Teks lengkap risalah ini ditahkik oleh Muhammad bin Luțfī as-Sibaġ, cet 2 (Beirut: tt.p, 1394/1974) sebagaimana dikutip oleh Mahmud al-‘Ainī.
[26] Hadis mursal yaitu hadis yang perawinya gugur dari sanad setelah tabi’in. Lihat Mahmūd aț-Țahān, Taysīr Mușțolah al-Hadīś (Iskandariyah: Markaz al-Hudā li ad-dirāsāt, 1415 H), h. 56
[27] Hadis matruk yaitu hadis yang sanadnya terdapat rawi yang tertuduh berdusta. Ibid., h. 73
[28] Hadis masyhur yaitu hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih dalam setiap tingkat sanadnya, namun tidak mencapai batas mutawatir. Ibid., h. 25
[29] Hadis mudallas yaitu menyembunyikan aib dalam satu sanad dan menampakkan kebaikan pada zahirnya. Ibid., h. 61
[30] As-Subkī, al-Manhal.., h.17; Mahmud bin Ahmad  al-‘Ainī, Syarh Sunan Abī Dawūd, h. 18
[31] Ibid.
[32] Nashīr ad-Dīn al-AlBānī, Șahīh Sunan Abī Dawūd, (Kuwait: Muassasah Ġarras, 1423/2002), jilid 1, h. 15-16
[33] Ibid., h. 18-19
[34] Ibid., h. 19
[35] As-Subkī, al-Manhal.., h.17
[36] Abū Abdullāh ad-Damasyqī, Țobaqāt ‘Ulama’ al-hadiś, h. 292
[37] Aż-Żahabī, Siyar A’lām an-Nubalā’, hal. 212
[38] Mahmud bin Ahmad  al-‘Ainī, Syarh Sunan Abī Dawūd, h. 26-27
[39] Lihat Nashīr ad-Dīn al-AlBānī, Șahīh Sunan Abī Dawūd, (Kuwait: Muassasah Ġarrās, 1423/2002)
[40] Lihat Nashīr ad-Dīn al-AlBānī, Da’if Sunan Abī Dawūd (Kuwait: Muassasah Ġarrās, 1423/2002)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About